Arsip Kategori: Khotbah

The Morning Light

Berikut adalah naskah materi yang akan saya sampaikan pada Kebaktian Remaja GII Hok Im Tong Bali pagi ini. Kiranya Tuhan menguatkan saya untuk membuka hati para jemaat supaya dapat menemukan makna natal yang sesungguhnya.

oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.

(Luk 1:78-79)

Nats Alkitab : Lukas 1:78-79 (68-79)

Ayat Mas : Lukas 2:29-31 : Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa.

Seminggu lagi kita akan merayakan natal. Mungkin yang paling berkesan bagi kita adalah kemeriahan natal. Banyak aksesori natal di mall-mall,  lagu-lagu natal sudah sering terdengar, dan mulai banyak diskon akhir tahun yang ditawarkan pusat-pusat perbelanjaan. Tadi malam kita juga sudah merayakan natal pemuda-remaja. Pdt. Samuel Wahyudi dalam khotbahnya mengajak kalian untuk merenungkan makna natal yang sesungguhnya. Sudahkah kalian menemukan jawabannya?

Mari kita baca Lukas 1:78-79. Dalam nubuat Zakharia di perikop tersebut, Yesus diibaratkan sebagai surya pagi dari tempat yang tinggi. Mengapa surya pagi? Bagi kita, surya pagi kelihatannya biasa saja. Tiap hari ya begitu. Waktu pagi, matahari terbit. Sore tenggelam. Pagi berikutnya, terbit lagi. Sore, tenggelam lagi. Begitu terus. Tidak ada yang luar biasa. Tetapi, benarkah hal itu tidak luar biasa?

Siapa di antara kalian yang pernah memperhatikan sunrise? Dimana kalian melihat sunrise? Apa perasaan kalian waktu melihatnya?

Sunrise di Gn Agung (Sumber: balifuntour.com)

Sunrise di Gn Agung (Sumber: balifuntour.com)

Menurut saya, sunrise yang paling indah dapat kita lihat di puncak gunung. Di Bali ini, saya pernah mendaki Gunung Agung dan Gunung Batur. Nah, biasanya kalau pendaki gunung mereka mengejar apa?  Sunrise. Jadi pada waktu malam, kami bikin tenda di sekitar puncak. Tujuannya, kami mau mengepaskan waktu supaya bisa sampai di puncak sebelum matahari terbit. Sekitar 2 jam sebelum matahari terbit, kami mulai mendaki ke puncak. Pendakian tersebut dinamakan summit attack. Para pendaki berusaha cepat-cepat untuk sampai di puncak gunung sebelum sunrise. Setelah sampai, kita para pendaki biasanya duduk-duduk di atas untuk menantikan sunrise.

Waktu sinar matahari belum muncul, suasana begitu sunyi. Gelap semua. Kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu di Bali dari atas gunung. Menit demi menit kami lalui dengan kegelapan. Tetapi, begitu sinar matahari pertama akan muncul, suasananya indah sekali. Rembang matahari membuat langit menjadi jingga. Kemudian ada saat dimana sinar matahari muncul dengan sangat terang. Itulah yang dinamakan surya pagi atau morning light. Kami terus menantikan sampai matahari muncul dengan sempurna. Kegelapan yang tadinya kami rasakan perlahan-lahan mulai memudar. Setelah itu, total tidak ada lagi kegelapan. Bumi menjadi terang benderang.

Inilah yang dimaksud Zakharia. Allah melawat manusia yang sudah ribuan tahun berada dalam kegelapan. Sejak jatuh dalam dosa, bumi tidak lagi menjadi tempat yang baik untuk manusia. Kejahatan merajalela. Mulai dari Sodom-Gomora, penindasan Firaun, kemudian di masa Perjanjian Baru ada penindasan bangsa Yahudi oleh bangsa Romawi. Umat Allah menanti-nantikan kelepasan bagi mereka sepanjang zaman. Memang bahkan sejak zaman Adam Allah sudah berjanji bahwa ada keturunannya yang akan ‘meremukkan kepala Iblis’. Nabi-nabi juga sudah memberitahukan tentang datangnya Mesias. Namun semua itu masih berupa bayangan. Baru pada saat natal itulah, janji Allah tentang Mesias tergenapi.

Di ayat 79 dikatakan, “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut”. Dunia ini sejatinya berada di dalam kegelapan. Iblis itu sangat licik. Pertama, dia menyesatkan manusia sehingga jatuh dalam dosa. Iblis juga masih terus menggoda kita untuk melawan Tuhan. Setiap hari dia menggoda kedagingan manusia untuk terus melakukan dosa melalui bermacam-macam wujud. Dari hal-hal kecil yang kita anggap remeh seperti berbohong, malas-malasan hingga hal yang ekstrim, misalnya, mabuk-mabukan, mencuri, membunuh dan sebagainya.

Tetapi, ada kelicikan lain yang lebih tinggi tingkatannya. Iblis membutakan pikiran kita sehingga kita tidak merasa bahwa dunia ini berada dalam kegelapan. Seperti halnya kita merasakan terbitnya matahari pagi dengan perasaan biasa saja, nothing special, begitu juga perasaan kita dengan dunia ini. Kita merasa kehidupan manusia di dunia baik-baik saja. Kalian bisa sekolah, makan cukup, pergi ke gereja. Tetapi benarkah keadaan dunia yang sebenarnya seperti itu? Tidak. Tadi malam Pdt. Samuel Wahyudi sudah menjelaskan mengenai bedanya fenomena dengan fakta. Fenomena bahwa kehidupan kalian baik-baik saja tidak menunjukkan fakta bahwa dunia juga baik-baik saja.

Foto korban pembantaian Khmer Merah yang dipajang di Museum Tuol Sleng (Sumber: mekong.net)

Foto korban pembantaian Khmer Merah yang dipajang di Museum Tuol Sleng (Sumber: mekong.net)

Sepanjang sejarah manusia, dunia penuh diwarnai dengan perbuatan keji manusia. Tahun 1937, ada peristiwa yang dikenal sebagai The Nanjing Massacre (The Rape of Nanking). Jumlah korban tewas sekitar 250.000 – 300.000. Pada tahun 1965-1966, militer dengan dibantu masyarakat membantai anggota PKI di seluruh Indonesia. Jumlah korban tewas sedikitnya 500.000 orang. Khmer Merah membantai setidaknya 1,5 juta orang sepanjang tahun 1975-1979 di Kamboja. Padahal, jumlah rakyat Kamboja waktu itu sekitar 8 juta orang. Beberapa wilayah Kamboja dinamakan The Killing Fields. Ladang Pembantaian.

Sampai hari ini, manusia masih terus melakukan kebiadaban. Belum lepas dari ingatan kita pada bulan Juli lalu dimana seorang pemuda membantai orang-orang yang sedang menonton film The Dark Knight Rises, hari Jumat (14/12) kemarin dunia dikejutkan lagi oleh peristiwa yang serupa. Seorang pemuda secara membabi buta menembakkan senjatanya ke arah para murid dan guru yang ada di SD Sandy Hook, Connecticut, AS. Sedikitnya 27 orang meninggal dalam tragedi tersebut. Jika kita baca koran, tidak sekali pun terbit suatu edisi dimana tidak terdapat berita kejahatan di dalamnya. Malah sekarang ini banyak koran yang berisikan berita-berita kriminal saja, dan mereka bisa terbit setiap hari tanpa kekurangan berita!

Semua itu menunjukkan fakta bahwa dunia sungguh rusak. Dimana-mana manusia melakukan dosa. Manusia lahir dari orangtua yang berdosa. Seumur hidupnya pun manusia banyak melakukan dosa, termasuk kita. Apa kalian kira bahwa dosa itu akan dibiarkan saja oleh Tuhan? Tidak. Sekali-kali tidak. Dalam Roma 6:23 dikatakan, “Sebab upah dosa ialah maut.” Karena dosa-dosa yang dilakukannya, manusia layak mendapat murka Allah. Manusia harus mati di dalam maut. Mau sebaik apapun manusia, itu tidak akan bisa menghapuskan dosa kita kepada Tuhan. Sudah hidup susah di dunia, setelah matipun manusia mendapat ancaman murka Allah.

Karenanya, orang-orang percaya sejak zaman dulu menanti-nantikan janji Tuhan kepada Abraham untuk melepaskan umat-Nya. Dalam Kejadian 26:4, salah satu janji Allah kepada Abraham adalah, “oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat”.Mereka tahu, bahwa tanpa Mesias, keselamatan tidak mungkin ada. Janji Allah kepada Abraham inilah yang menjadi dasar ayat 72 dari perikop tadi, “Untuk menunjukkan rahmatNya kepada nenek moyang kita dan meningat akan perjanjian-Nya yang kudus.” Kalau kita baca ayat ini baik-baik, kita akan mengerti bahwa rahmat dan belas kasihan dari  Allahlah yang membuat kita selamat. Bukan karena kebaikan kita dan bukan juga karena persembahan kita. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menyelesaikan dosa manusia.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang Gubernur DKI Jakarta yang baru, Pak Joko Widodo (Jokowi). Satu hal yang menjadikan dia lain daripada gubernur Jakarta yang sudah-sudah adalah kebiasaannya blusukan ke kampung-kampung. Setiap kunjungannya, banyak warga yang berebutan untuk sekedar bersalaman. Bahkan banyak juga yang menyampaikan uneg-unegnya. Warga Jakarta, dan kita semua, heran. Ada juga gubernur yang merakyat seperti ini. Dulu kalau kita bayangkan, seorang pejabat sekelas gubernur pasti duduk di kantor yang mewah, naik mobil mewah, kemana-mana dikawal pake voor rijder. Tetapi Jokowi lain. Dia mau turun langsung ke bawah, melihat keadaan yang sebenarnya. Bahkan pernah diceritakan bahwa Gubernur Jokowi suatu waktu tiba-tiba mendatangi warga yang sedang asyik rame-rame nonton bola malam-malam. Betapa terkejutnya warga dan betapa senangnya mereka melihat gubernurnya dari dekat.

Jika orang-orang tersebut sudah senang bukan main waktu dikunjungi gubernur, apalagi jika Allah sendiri yang mengunjungi! Keselamatan adalah tindakan Allah yang nyata. Allah kita tidak hanya menunjukkan jalan keluar bagi manusia supaya selamat, tetapi Dia sendiri yang mengerjakan-Nya. Allah kita bukan seperti Allah agama lain yang tidak merasakan beratnya penderitaan manusia. Allah kita juga pernah berada bersama-sama manusia. Pernah merasakan lapar, haus, dan juga beratnya godaan Iblis. Namun Dia sama sekali tidak berdosa.

Oleh karena itu, jangan ragu kepada Yesus. Dia tidak hanya memberikan keselamatan kekal setelah kita mati, namun Dia juga berjanji untuk memelihara kita. Seringkali kita berpikir seolah-olah Allah tidak merasakan penderitaan kita. Itu merupakan pikiran yang keliru. Kadangkala, di saat orang lain memberikan nasihat atas permasalahan yang kita hadapi, kita malah menjawab “Ah, kamu bisa bicara begitu karena kamu tidak mengalaminya sendiri”. Tetapi, kita tidak bisa bilang begitu kepada Tuhan. Apa masalah kalian? Diejek teman-teman? Yesus pernah merasakannya. Sedih karena kehilangan orang yang dicintai? Allah pun pernah merasakan hal yang sama sewaktu dia mengutus anak-Nya ke dalam dunia untuk disalibkan.

Penderitaan manusia tidak mungkin melebihi apa yang telah dirasakan oleh Yesus. Pertama, Dia lahirnya di kandang domba. Semiskin-miskinnya manusia, saya belum pernah mendengar ada orang yang dilahirkan di kandang. Dia juga lahir dari orangtua yang miskin. Bagaimana tahu bahwa Yusuf dan Maria miskin? Lihat di Lukas 2:24. Sewaktu Yesus disunat, mereka mempersembahkan sepasang burung tekukur atau dua ekor anak merpati. Menurut hukum Taurat di Imamat 5:7, seseorang harus mempersembahkan kambing atau domba. Namun jika tidak mampu, dapat mempersembahkan burung tekukur atau merpati.

Kemudian, dalam pelayanannya setelah dewasa, Yesus jarang sekali beristirahat. Begitu banyak hal yang Dia harus kerjakan selama sekitar tiga setengah tahun. Dan selama itu pula Dia mendapat ancaman dari imam-imam Yahudi, ahli-ahli Taurat, dan orang Farisi. Bayangkan saja, Yesus yang sesungguhnya sedang bekerja untuk menyelamatkan umat manusia, malah dimusuhi. Puncaknya, Yesus mati dengan cara yang sangat menyakitkan dan hina. Salib.

Jadi inilah alasan mengapa Yesus harus lahir ke dalam dunia. “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibr 2:17). Yesus menaruh belas kasihan kepada manusia dan pengorbanan-Nya di kayu salib memungkinkan adanya pendamaian antara manusia dengan Allah. Dan natal merupakan awal peristiwa semua itu akan terjadi. Seperti halnya kalau kita melihat sinar matahari pagi, kita tahu bahwa itu belum berakhir. Kita tahu bahwa setelah itu akan ada siang hari, saat matahari menampakkan seluruh sinarnya.

Kelahiran Yesus adalah fakta sejarah, bukan hanya fenomena. Tidak ada satu agama pun, satu bukti sejarah pun, yang meragukan kelahiran Yesus. Dan di Alkitab dinyatakan bahwa Dialah Sang Mesias itu. Manusia telah menerima surya pagi dari tempat yang tinggi. Orang-orang percaya mempunyai pengharapan, tidak lagi hidup dalam kegelapan. Walaupun dunia masih dipenuhi kejahatan dan penderitaan, tetapi kita anak-anak Allah dapat bersukacita karena jika semua ini nanti berakhir, kita tahu bahwa kita akan tinggal bersama-sama dengan Allah.

Setelah mendengar berita natal, apa yang kalian rasakan? Biasa saja? Mari kita lihat apa yang terjadi dalam diri seorang saleh yang melihat sendiri bayi Yesus. Dia bernama Simeon. Roh Kudus telah menjanjikan kepadanya bahwa dia akan melihat Mesias dalam hidupnya. Setelah dia melihat Mesias, apa yang diucapkannya? Cobalah baca Lukas 2:29-31. Dia berkata bahwa  dia rela mati dengan tenang! Simeon tahu apa makna natal yang sesungguhnya. Jika kita penuh dengan Roh Kudus seperti Simeon, kita tidak mungkin menyepelekan arti natal. Kalian harus hidup bagi Kristus, yang telah mati untuk dosa kalian.

Semangat natal yang benar adalah kita harus melakukan seperti apa yang telah Tuhan kita lakukan di dunia. Kita harus rela menyediakan diri kita untuk dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Bagaimana kita bisa melakukannya? “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Flp 2:5). Apa maksud ‘menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus’? Sebagai contoh, ada teman kalian yang sakit. Kira-kira jika Tuhan Yesus ada di sini, apa yang akan Dia lakukan?  Membiarkan saja orang tersebut? Tidak, kan? Bulan lalu kita sudah membaca bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta. Jika Tuhan mempunyai kepedulian terhadap orang sakit, kita juga harus demikian. Minimal, kita memberi perhatian kepada teman kita yang sakit.

Jika ada teman yang membutuhkan penguatan karena sedang ada masalah, kalian juga harus menguatkan dia. Pernahkah Tuhan Yesus menolak orang yang datang kepada-Nya? Tidak. Bahkan dia mau berbincang-bincang dengan perempuan Samaria. Kalian harus lebih care satu sama lain. Sekarang sudah ada care group, kalian harus belajar untuk berbagi di situ.

Kemudian, hal yang paling jelas Yesus lakukan sepanjang hidup-Nya adalah, dia memproklamirkan Injil. Hati Yesus begitu hancur melihat banyak orang yang menuju kebinasaan. Apakah kalian juga menaruh belas kasihan yang sama kepada saudara-saudara kalian yang belum percaya? Sudahkah kalian memberitakan Injil kepada mereka? Momen natal ini merupakan saat yang paling tepat untuk memberitakan Injil. Ceritakanlah bahwa di balik kemeriahan suasana natal, ada makna yang lebih dalam. Ceritakanlah kepada saudara-saudara kalian yang belum percaya, surya pagi sudah datang. Atau paling tidak, ajak mereka datang ke perayaan natal gereja kita tanggal 24 nanti, biarlah Tuhan yang bekerja.

Sebagai orang Kristen, kita harus betul-betul memahami hati Tuhan. Caranya, kita belajar baik-baik melalui Alkitab. Apa saja yang Yesus lakukan sepanjang hidup-Nya. Bagaimana ketaatan-Nya terhadap Bapa, kasih-Nya terhadap orang-orang berdosa, serta  kerelaan-Nya untuk menderita demi orang lain. Teladani Dia dalam seluruh kehidupan kita.

Untuk menutup materi ini, saya mengajak kalian untuk merenungkan komitmen apa yang akan kalian persembahkan bagi Tuhan. Mulai dari hal yang sederhana saja. Misalnya, ‘Saya berkomitmen untuk memperbaiki nilai raport bagi kemuliaan nama Tuhan’. Kelihatannya sepele. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Orang Kristen yang mempunyai pengetahuan Alkitab kuat dan juga pengetahuan keilmuan kuat akan bisa dipakai Tuhan secara luar biasa.

Contohnya, William Lane Craig. Dia seorang filsuf, teolog, dan apologet Kristen terkenal. Bukunya banyak sekali, misalnya:

William Lane Craig (Sumber: wikipedia)

William Lane Craig (Sumber: wikipedia)

The Cosmological Argument from Plato to Leibniz”, “Creation out of Nothing: A Biblical, Philosophical, and Scientific Exploration”, “Einstein, relativity and absolute simultaneity”, “Theism, Atheism, and Big Bang Cosmology”, dan sebagainya. Dari judulnya, kita bisa melihat bahwa Craig mampu untuk menerjemahkan dunia pengetahuan dalam terang Alkitab. Banyak orang-orang pintar di luar sana yang tidak kenal Tuhan, menyerang Kekristenan, menganggap Allah tidak ada, dan sebagainya. Orang-orang semacam ini jelas bisa mempengaruhi dunia untuk tidak mempercayai Allah, apalagi Yesus. Nah, Craig debat dengan orang-orang seperti itu untuk membuktikan bahwa semakin dunia dipelajari, semakin jelas pula bahwa Allah ada di baliknya. Dan semakin jelas pula bahwa manusia membutuhkan Yesus sebagai Juru selamatnya.

Seperti halnya Craig, kalian adalah anak Tuhan yang bisa dipakai-Nya. Apapun cita-cita yang kalian inginkan, pelajaran yang kalian sukai, hobby positif yang sedang kalian kembangkan, biarlah itu semua kalian persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Hiduplah bagi Kristus, yang sudah rela mati bagi kalian.

Karena bagiku hidup adalah Kristus (Flp 1:21a)

Sekian.


Yesus Sumber Pengharapan yang Sejati

Hari ini saya kebagian tugas untuk menyampaikan firman pada kebaktian remaja di gereja dimana saya berjemaat, GII Hok Im Tong Bali. Karena baru membaca buku ’7 Langkah Menyusun Khotbah yang Mengubah Kehidupan’ karangan Pdt. Benny Solihin, saya sekalian belajar untuk menyusun khotbah hari ini dengan menggunakan panduan dari buku tersebut. Memang masih banyak kekurangan di sana-sini, tetapi perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama, bukan?

Pendahuluan

Siapa di antara kalian yang tidak mempunyai masalah? Saya yakin tidak ada. Semua orang di dunia ini pasti mempunyai masalah. Tetapi, menurut kalian, apa masalah utama manusia di dalam dunia ini? Dosa. Seberapapun berat masalah yang dihadapi seseorang, hal itu hanya akan terjadi dalam jangka waktu tertentu saja di dunia. Tetapi akibat dosa, manusia akan mendapat murka Allah dalam kekekalan. Hari ini kita akan belajar mengenai Yesus sebagai sumber pengharapan yang sejati dan bagaimana kita harus merespons berkat yang telah kita terima dari-Nya, termasuk anugerah keselamatan.

I. Yesuslah Satu-Satunya Sumber Pengharapan

Penjelasan

Mari kita perhatikan lagi ayat yang kesebelas. Di situ diceritakan bahwa Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Pada zaman itu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Mengapa Yesus mengambil jalan ini? Saya yakin bahwa Yesus tahu bahwa Dia harus melakukan sesuatu di sana, diantaranya adalah menyembuhkan kesepuluh orang kusta yang nantinya akan ditemuinya. Sesungguhnya perikop tersebut berkata bahwa Yesuslah yang mencari mereka dan bukannya mereka yang mencari Yesus.

Kemudian cerita dilanjutkan saat Yesus memasuki sebuah desa, di sana Dia bertemu dengan sepuluh orang kusta. Mari kita sejenak renungkan keadaan mereka. Pada masa itu, penyakit kusta dianggap sebagai penyakit yang diakibatkan karena dosa. Orang yang menderita penyakit kusta juga harus diasingkan dari masyarakat. Mereka pasti mengalami penderitaan yang sangat berat. Pertama, karena penyakitnya tersebut. Kedua, karena pengucilan yang diterima dari masyarakat. Sangat tersiksa, bukan? Di saat sakit parah tetapi tidak ada orang yang mau merawat, bahkan diusir dari rumah.

Mungkin mereka sudah sangat letih untuk menjalani hidup ini. Mungkin juga sudah berobat kesana-kemari namun tidak ada hasil. Berdoa pun sepertinya tidak dijawab. Sementara itu, hari demi hari penyakit kusta mereka semakin memburuk. Keadaan seseorang yang masih belum percaya kepada Kristus juga demikian. Hidup tidak ada pengharapan. Sia-sia.

Tetapi, harapan kesepuluh orang kusta tersebut timbul lagi saat mengetahui Yesus sedang berjalan menuju ke suatu desa. Mereka pun cepat-cepat pergi untuk menemui Yesus. Mereka lalu mendatangi Yesus untuk meminta belas kasihannya. Pada ayat keduabelas dikatakan, “Mereka tinggal berdiri agak jauh”. Sadar diri, mereka tidak berani berdiri dekat-dekat dengan Yesus.  Inilah keadaan orang berdosa. Orang yang menyadari dosa-dosanya, tidak mungkin merasa layak untuk menghadap Tuhan. Di sisi lain, orang berdosa tetap ingin selamat. Bagaimana mungkin dengan dosa-dosa yang sebanyak itu, mereka dapat masuk ke Sorga, apalagi dengan usahanya sendiri, yaitu berbuat baik.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kita lanjutkan dalam ayat ketigabelas, kesepuluh orang kusta tersebut meminta belas kasihan Yesus. Tidak hanya itu, mereka bahkan menyebut Yesus sebagai ‘Master’ (terjemahan bahasa Inggris)/’Tuan’ (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Mereka siap taat kepada Yesus sebagai tuan-Nya dan melakukan apa saja yang diperintahkan-Nya. Lihat betapa pasrahnya mereka. Harapan mereka satu-satunya adalah Yesus.

Ilustrasi

Tepat satu tahun yang lalu, ayah saya jatuh sakit dan harus di-opname di rumah sakit. Dokter mendiagnosis beliau terkena sirosis hati. Sirosis hati merupakan tahapan sebelum terjadinya kanker hati. Pada tahap ini, sel-sel hati mulai mati, dan jika terus berkembang, suatu saat hati tidak berfungsi lagi (gagal hati).  Saat itu ada seorang dokter yang kenal baik dengan keluarga kami mengatakan bahwa “Kalau bapak minta makan apa saja, jangan dilarang”. Kami sekeluarga paham bahwa jika dokter sudah berkata demikian, berarti harapan hidup ayah saya sudah sangat tipis. Beberapa orang mengatakan harapan hidupnya maksimal tinggal beberapa minggu saja. Kakek saya hanya mampu bertahan dua minggu saja dalam keadaan penyakit yang sama.

Namun dalam kondisi seperti itu, ayah saya tetap mempunyai iman bahwa Tuhan mampu melakukan hal yang dianggap mustahil bagi manusia. “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,” (ef 3:20a). Tuhan saja sanggup menciptakan alam semesta dari ketiadaan, betapa mudahnya bagi Dia untuk menyembuhkan sakit ayah saya jika memang Dia menghendaki-Nya. Walaupun dokter sudah angkat tangan, tetapi kedaulatan Tuhanlah yang menjadi penentu.

Benar saja, hari demi hari berlalu dan keadaan ayah saya mulai membaik. Bukan hanya beliau dapat pergi ke Bali untuk menengok cucu pertengahan tahun ini, tetapi waktu saya pulang 2 minggu lalu untuk menjenguk ayah saya, beliau juga terlihat cukup sehat. Bahkan beliau mampu berjalan pagi-pagi mendorong kereta bayi memutar alun-alun. Luar biasa, bukan? Apa yang dikatakan mustahil bagi manusia, ternyata Tuhan mampu melakukan-Nya.

 Aplikasi

Tuhan maha kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun. Seperti kesepuluh orang kusta dalam cerita tadi, dan juga pengalaman ayah saya, kita juga harus percaya bahwa Yesus sanggup melakukan perkara-perkara yang tampak mustahil dalam pandangan kita. Jangan cari pertolongan di luar Kristus. Saya tidak tahu pergumulan kalian satu persatu. Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya, apakah orangtua kalian sanggup membiayai pendidikan kalian sampai sarjana? Mungkin ada juga yang bertanya-tanya, apakah orangtua kalian bisa bertobat dari kelakuan buruknya? Apakah rusaknya hubungan kalian dengan salah satu sahabat dapat diperbaiki? Atau soal-soal yang lebih remeh lagi, semacam bisakah kalian lulus dalam ujian nasional atau ujian masuk perguruan tinggi.

Apapun persoalannya, yakinlah bahwa Yesus adalah sumber pengharapan dan belas kasihan kita. Jangan sekali-kali sandarkan harapan pada materi ataupun orang-orang di dunia ini,  karena semua itu sia-sia!

II. Ada Proses yang Harus Dijalani Sebagai Bentuk dari Ketaatan

Penjelasan

Setelah kita percaya bahwa Yesus sanggup menolong kita, adakah bagian kita? Tentu saja. Mari kita lihat kembali perikop tadi, terutama ayat keempatbelas. Di ayat tersebut, Yesus meminta mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam. Walaupun tidak langsung disembuhkan saat itu juga, mereka pergi juga kepada imam-imam. Mereka taat kepada perintah Yesus. Dan buah dari ketaatannya, di tengah jalan mereka menjadi sembuh.

Saya yakin jika setelah mendengar perintah Yesus, mereka malah menggerutu, atau mereka tidak mau pergi juga kepada imam-imam, maka kesembuhan tidak akan pernah terjadi pada diri mereka. Ada suatu proses yang harus diikuti oleh mereka untuk membuktikan bahwa mereka percaya dan taat kepada Yesus.

Ilustrasi

Alkisah, ada seorang remaja yang masih bersekolah di suatu SMA favorit. Sebut saja namanya Gayus. Gayus mempunyai cita-cita untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri. Oleh karenanya, dia harus mendapatkan hasil yang menonjol. Siang malam Gayus berdoa kepada Tuhan. Tiap minggu tidak lupa dia ke gereja. Tidak hanya itu, dia juga rajin ikut pelayanan. Namun, ada satu hal yang tidak dia lakukan. Dia tidak berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Karena ingin terlihat pintar, Gayus juga tidak pernah memperhatikan pelajaran di sekolahnya. Ayat favoritnya adalah Mzm 127:2, “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Dari ayat ini dia berkesimpulan bahwa orang berusaha dan tidak berusaha hasilnya sama saja, karena Tuhan yang menentukan.

Hari berganti hari. Bulan pun berganti bulan. Tiba saatnya ulangan umum. Karena waktunya mepet, Gayus hanya belajar sekenanya saja malam sebelum ujian. Karena dia tidak pernah memperhatikan pelajaran di kelas, Gayus pun mengalami kesulitan untuk memahami semua bahan pelajaran dalam waktu singkat. Dia panik. “Sudah terlambat”, katanya, “Apa yang terjadi, terjadilah..” Pagi harinya sebelum berangkat ke sekolah, dia pun berdoa lagi kepada Tuhan dan membaca Flp 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Hatinya agak tenang. Ternyata, pada saat mengerjakan ujian, banyak soal yang tidak bisa dijawabnya karena dia belum sempat dipelajarinya. Gayus stress. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjawab soal-soal. Setelah waktu pengerjaan habis, Gayus akhirnya pasrah dan mengumpulkan lembar jawabannya dengan kepala tertunduk. Saat hasil ujian dibagikan, Gayus mendapatkan nilai 5. Gayus merasa sangat kecewa. Bukankah dia sudah berdoa, rajin ke gereja, ikut pelayanan ini-itu. Mengapa Tuhan tidak membalas jerih lelahnya dengan setimpal? Mana bukti kuasa Tuhan?

Suatu kali, Gayus ikut persekutuan remaja di gerejanya. Perikop yang dibahas adalah Lukas 17:11-19. Pembicara pada saat itu menguraikan satu persatu ayat yang ada di perikop tersebut dengan runut. Pada ayat keempatbelas, dikatakan Yesus memerintahkan sepuluh orang kusta untuk pergi menghadap imam-imam. Dan di tengah perjalanan, mereka semua menjadi tahir. Saat pembicara tersebut menguraikan arti ayat ini, pikiran Gayus mulai terbuka. “Jangan-jangan, saya hanya percaya membabi-buta saja, tanpa ketaatan yang benar kepada Tuhan…”

Gayus pun berdoa kepada Tuhan. Kali ini doanya sungguh-sungguh, yaitu minta dibukakan hikmat yang benar. Dia pun banyak membaca Alkitab dan buku-buku rohani. Salah satu ayat yang menyadarkannya adalah 2 Tes 3:10, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Bukankah Tuhan menjamin hidup seseorang? Mengapa ada ayat ini? Gayus kaget, ternyata selama ini pikirannya keliru. Dia berpikir bahwa dengan berserah saja kepada Tuhan, itu sudah cukup. Ternyata, Tuhan juga menginginkan usaha kita sebagai salah satu bentuk ketaatan. Gayus menjadi sadar, selama ini dia hanya mencomot ayat sekenanya saja dan tidak memahami maknanya secara utuh.

 Aplikasi

Berkat Tuhan tidak meniadakan usaha manusia. Kita harus tetap berusaha sebagai salah satu bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Karena ketaatan adalah unsur yang sangat penting dalam kehidupan keimanan, kita tidak mungkin percaya kepada Yesus tanpa adanya ketaatan. Ketaatan terhadap apa? Ketaatan terhadap perintah-Nya, seperti tertulis dalam 1 Yoh 2:4, “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Nah, untuk dapat mengenal perintah Tuhan, kita harus rajin membaca Alkitab dan berdoa.

Setelah kita percaya, taat, dan kemudian menerima berkat-Nya, apalagi yang harus kita lakukan?

III. Keselamatan Sejati Diperoleh Saat Seseorang Menerima Yesus dan Bukan Hanya Berkat-Nya Saja

Penjelasan

Kita perhatikan ayat kelimabelas dan seterusnya. Yesus tahu bahwa mereka semua mendapatkan kesembuhan seperti yang mereka inginkan. Bagaimana Yesus bisa tahu? Hal ini membuktikan bahwa dia adalah Allah yang Mahatahu. Kemudian, kuasa-Nya cukup. Tidak hanya satu dua orang saja, mereka semua disembuhkan. Namun, hanya seorang saja yang kembali kepada Yesus. Dia adalah orang Samaria. Seperti yang saya sampaikan di awal, orang Yahudi waktu itu tidak berinteraksi dengan orang Samaria. Sungguh mengherankan bukan, bahwa ternyata yang datang kembali kepada Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya malah orang Samaria. Sementara itu, tidak ada satu pun orang Yahudi yang telah sembuh kembali kepada-Nya. Padahal, orang Yahudi mengklaim bahwa mereka adalah ras yang murni, kaum pilihan Allah, mempunyai banyak pengetahuan tentang Allah. Mungkin sembilan orang lainnya menganggap bahwa mereka layak untuk disembuhkan.Yesus wajib menyembuhkan mereka karena mereka adalah umat pilihan Allah, setia beribadah kepada-Nya, dan sebagainya. Atau mereka lupa, karena begitu senangnya maka mereka tidak peduli lagi dengan Yesus.

Ternyata tingginya pengetahuan teologi seseorang tidak serta merta menjamin bahwa iman orang tersebut juga kuat. Justru orang yang paling merasa berdosa, tidak layak, bahkan najis seperti orang Samaria tadilah yang paling merasakan berkat Tuhan. Sudah Samaria, kena kusta lagi. Tapi ternyata Yesus yang orang Yahudi mau menyembuhkannya. Tentu saja dia sangat mengucap syukur. Tepat seperti apa yang tertera dalam Rm 5:20b, “dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,

Orang Samaria tadi juga menjadi orang yang paling berbahagia dibanding sembilan temannya yang lain. Mengapa? Dia tidak hanya mendapatkan kesembuhan jasmani saja, yaitu ditahirkan dari penyakit kusta. Tetapi, dia juga menerima kesembuhan yang sejati, yaitu keselamatan kekal karena dia telah mendapatkan Yesus. Kesembilan orang kusta tersebut hanya memaknai mukjizat sampai taraf jasmani saja. Mereka berpikir bahwa dengan sembuh dari kustamaka persoalan hidup mereka selesai.Berkat Tuhan hanya dipahaminya sampai sebatas itu saja. Mereka belum sampai mendapatkan Sumber Berkatnya.

Ilustrasi

Dahulu kala ada seorang saleh yang sangat kaya. Selain diberkati dengan banyak harta benda, dia juga memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan. Melihat kesalehannya, Iblis lalu mengusulkan kepada Tuhan untuk mengambil semua kepunyaannya. Iblis berpikir bahwa wajar saja ia sedemikian saleh. Bukannya Tuhan sudah memberinya banyak berkat? Jika berkat itu dicabut, pasti dia akan mengutuki Tuhan, begitu pikir Iblis. Tuhan pun menyetujui usul Iblis tersebut. Lalu dalam sekejap, semua harta benda orang saleh tersebut habis. Tidak hanya itu, semua anaknya juga mati. Seakan belum cukup, orang saleh itu pun menderita penyakit yang amat menjijikkan. Seluruh tubuhnya penuh dengan borok.

Mungkin saat itu Iblis merasa menang. “Lihat, sudah menderita seperti itu, apakah engkau masih setia kepada Allah?” Namun apa yang terjadi? Orang tersebut tidak sedikitpun mengutuki Allah. Malah dia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayb 1:21). Sungguh luar biasa. Dia tahu bahwa di dalam hidupnya, tidak ada yang lebih penting lagi selain Tuhan. Baik dalam keadaan berkecukupan maupun menderita, dia tetap meninggikan nama Tuhan.

Akhirnya di akhir penderitaan itu, Tuhan sendiri berbicara kepadanya. Setelah mendengar perkataan Tuhan, dia lalu mengucap syukur, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayb 42:5). Dulu waktu dia kaya, dia hanya mengenal Tuhan lewat ‘kata orang’. Sekarang, dia tidak mempedulikan lagi tentang penderitaannya karena dia telah mengenal Tuhan secara pribadi. Dia telah bertemu dengan Sumber Berkatnya, yang pastinya jauh lebih berharga dibanding berkat-berkat-Nya. Pada akhirnya, Tuhan mengganti semua yang telah diambilnya dari orang itu dua kali lipat. Tuhan senang bahwa orang itu tidak hanya mau berkat-berkat-Nya saja, tetapi dia mau Tuhan secara pribadi. Kisah hidup orang tersebut dibukukan sendiri dalam satu kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Ayub.

Aplikasi

Tidak seperti Ayub dan orang Samaria tadi, kesembilan orang kusta yang disembuhkan Yesus itu hanya mau datang kepada-Nya untuk mendapat berkat-Nya saja. Dia tidak peduli pada Sumber Berkatnya. Mungkin kita pun demikian. Seringkali kita datang kepada Yesus jika ada kesulitan saja. Di saat sakit, kita berdoa meminta kesembuhan kepada Yesus. Saat dirundung masalah, kita rajin berdoa kepada Yesus. Memang semua itu baik, karena kita percaya bahwa Yesus adalah satu-satu-Nya sumber kesembuhan kita. Kita tidak meminta kepada setan, dukun, dan sebagainya. Tetapi, setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan, apakah kita juga masih setia bersekutu dengan-Nya?

Kita harus kembali kepada Sumber  Berkat itu sendiri dan bukan hanya mau terima berkat-Nya saja. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (Yohanes 6 : 26).  Kita harus mempunyai respons yang benar setelah menerima berkat seperti yang dilakukan oleh orang Samaria itu, yaitu mengucap syukur dan memuliakan nama Tuhan.

Lalu bagaimanakah cara kita untuk dapat mengucap syukur dan memuliakan nama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Yang pertama, kita harus mengakui bahwa segala yang telah kita terima di dunia ini adalah berasal dari Allah saja. Jangan sombong jika kita berhasil menjadi juara kelas, berhasil menang lomba ini-itu, ataupun banyak orang yang memuji kepintaran kita. Semua itu berasal dari Allah dan kita harus mengucap syukur kepada-Nya.

Memang rasa-rasanya sih karena kita belajar keras, makanya kita juara kelas. Coba kalau kita nggak belajar, pasti nggak akan jadi juara kelas, bukan? Tetapi itu bukan faktor yang bisa memastikan keberhasilan kita. Coba kita perhatikan dalam cerita kesepuluh orang kusta tersebut. Kesembuhan sesungguhnya terjadi karena mereka taat pada perintah Yesus untuk pergi menghadap imam-imam atau karena Yesus sendirilah yang menyembuhkan mereka? Tentu saja karena Yesus sendiri yang bekerja. Usaha kesepuluh orang kusta tadi hanyalah sebagai salah satu wujud ketaatan kepada-Nya. Jika mau, Yesus bisa saja seketika itu juga menyembuhkan mereka di hadapan-Nya.

Kedua, Tuhan tidak pernah bermaksud untuk membagikan berkat-Nya supaya kita nikmati sendiri. Bagikanlah kepada orang lain semampu kita. Orang yang tidak mau membagikan berkatnya kepada orang lain adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Mereka menganggap bahwa apa yang mereka miliki adalah hasil kerja keras mereka sendiri, karenanya mereka tidak rela untuk membagikannya kepada orang lain. Tetapi kita sebagai orang percaya tahu bahwa segala yang kita miliki adalah milik Tuhan. Dan Tuhan memberikan kehormatan kepada kita untuk menjadi saluran berkat-Nya.

Terakhir, beritakanlah Sang Pemberi Berkat kepada lingkungan kita. Jika kita lihat di sekitar kita, banyak sekali orang yang membutuhkan Yesus dalam hidupnya. Suatu saat kalian perhatikan, terutama di Bali ini, tiap hari orang menghaturkan sesaji, membakar dupa, dan bersembahyang supaya diberi keselamatan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk dapat selamat. Tetapi kita tahu bahwa satu-satunya sumber keselamatan adalah di dalam pribadi Yesus saja. Hari ini pun kita diingatkan kembali oleh Tuhan melalui kisah kesepuluh penderita kusta tersebut, bahwa selain mampu untuk memberikan pertolongan di dunia ini, Yesus juga mampu untuk memberikan pertolongan di dunia yang akan datang. Sedangkan orang-orang yang membakar dupa tadi, mereka tidak mengenal kebenaran ini. Akankah kita akan berdiam diri saja melihat mereka berada dalam ketidaktahuan?

Oleh karenanya, mari kita belajar untuk lebih peka lagi terhadap keadaan sekitar kita. Apakah ada orang yang perlu mendengarkan Injil. Bagaimana dengan orangtua kita? Saudara-saudara kita? Sahabat-sahabat kita? Termasuk juga kalau di rumah kita ada orang yang membantu bersih-bersih rumah, babby sitter, atau sopir. Kewajiban kitalah untuk mengabarkan Injil kepada mereka. Pastikan mereka telah mendengar Injil, karena nanti Tuhan akan menuntutnya dari kita. “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! — dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” (Yeh 3:18).

Penutup

Kita telah belajar bahwa Yesus adalah sumber pengharapan kita. Bukan hanya di dunia ini, tetapi juga di dunia yang akan datang. Dalam Yoh 14:6 Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kita harus mendapatkan Sang Pemberi Berkat itu sendiri dan jangan hanya ingin berkat-Nya saja. Kiranya hidup kita terus berakar dan bertumbuh di dalam kebenaran ini.

Amin.

=================

STRUKTUR KHOTBAH

———————————-

Judul              : Yesuslah Sumber Pengharapan yang Sejati

Teks                : Lukas 17:11-19 (Bacaan Bertanggapan dari Yes 53:1-7)

Tujuan         : Agar remaja mempunyai pemahaman dan respons yang benar mengenai Yesus sebagai sumber pengharapan dan belas kasihan

Pendahuluan

  • Semua manusia mempunyai masalah
  • Masalah utama manusia: dosa
  • Yesus sumber pebgharapan yang sejati

Amanat Khotbah

Yesus adalah sumber pengharapan kita baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang dan kita harus mengucap syukur atas berkat-berkat-Nya.

Kalimat peralihan       : Mari kita perhatikan lagi ayat yang kesebelas

Tubuh

I. Yesuslah Satu-Satunya Sumber Pengharapan (ay. 11-13)

Kalimat peralihan       : Setelah kita percaya bahwa Yesus sanggup menolong kita, adakah bagian kita?

II. Ada Proses yang Harus Dijalani Sebagai Bentuk dari Ketaatan (ay. 14)

Kalimat peralihan       : Setelah kita percaya, taat dan kemudian menerima berkat-Nya, apalagi yang harus kita lakukan?

III. Keselamatan Sejati Diperoleh Saat Seseorang Menerima Yesus dan Bukan Hanya Berkat-Nya Saja (ay. 15-19)

Penutup

  • Yesus sumber pengharapan baik di dunia ini ataupun dunia yang akan datang
  • Janji Tuhan: Yoh 14:6
  • Kita harus menerima Sang Pemberi Berkat

Mozaik Kehidupan

Tulisan ini saya sarikan dari khotbah remaja GII Hok Im Tong Bali tanggal 26 Februari 2011. Saat itu merupakan pertama kalinya saya diminta untuk membantu mengisi khotbah remaja. Terima kasih kepada Pdt. Tan Pau Suh yang telah memberikan saya kesempatan tersebut dan terutama hormat bagi Allah sumber hikmat dan kekuatan yang telah memampukan saya. Pemahaman secara teologis dan contoh-contoh didapat dari berbagai sumber dan perenungan pribadi.

Pernahkah Anda menyesali langkah-langkah Anda dalam mengarungi kehidupan ini? Bagaimana cara Anda untuk  memilah-milah antara peristiwa yang kebetulan dan tidak, antara peristiwa yang kecil dan besar, antara gagal dan sukses? Namun, bagi orang percaya, segala sesuatu yang terjadi pada hidup kita ini merupakan suatu rancangan Allah untuk menggenapi rencana-Nya.

Siapa yang tidak kenal Steve Jobs? Mungkin bagi Anda yang tidak berkecimpung di dunia teknologi atau juga seorang fanboy (sebutan bagi para penggemar produk Apple), Anda lebih mengenal produk-produk Apple seperti iPhone, iPad,  iPod, dan komputer Macintosh. Co-founder Apple ini, bersama Steve Wozniak,  meninggal pada tanggal 5 Oktober 2011 (Steve Jobs masih hidup saat saya menyampaikan khotbah ini) pada usia 56 tahun karena kanker pankreas yang sudah diidapnya selama tujuh tahun. Dunia menjadi gempar sesaat setelah kabar meninggalnya Steve Jobs tercium oleh media. Entah berapa puluh ribu fanboy yang mengirimkan bunga dukacita di beberapa Apple store yang tersebar di berbagai belahan dunia saat itu. Para pengamat teknologi pun banyak yang mengulas mengenai bagaimana Apple dapat bertahan sepeninggal Steve Jobs. Dunia sangat kehilangan sang maestro dibalik produk-produk Apple yang selain canggih juga terkenal akan tampilannya yang indah, elegan, dan futuristik.

Bagaimana Steve Jobs Memandang Kehidupannya

Secara pribadi, hal yang tertanam dalam diri saya mengenai mendiang Steve Jobs bukanlah produk-produknya, melainkan sebuah pidatonya yang sangat terkenal di hadapan wisudawan Universitas Stanford tahun 2005 (terjemahannya dapat Anda baca  dengan klik di sini). Pada bagian pertama pidatonya, Steve Jobs mengemukakan bagaimana dia menghubungkan titik-titik dalam kehidupannya. Ada beberapa titik dalam kehidupannya, yang jika dilihat pada saat kejadian berlangsung merupakan sesuatu yang tampak kecil atau bahkan dianggap sebagai kegagalan, namun jika dirangkai dengan titik yang lain akhirnya semuanya terlihat bermanfaat. Sebagai contoh, saat dia memutuskan drop-out dari Stanford mungkin pada saat itu dipandang orang sebagai suatu kegagalan. Lalu karena dia tidak wajib lagi mengikuti kuliah normal, maka dia mencoba-coba mengambil kelas kaligrafi di Reed College.  Waktu itu bagi Steve Jobs, Reed College dianggap sebagai universitas yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. “Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya”, dia mengenang.

Aneh bukan, seorang yang nantinya dianggap sebagai dedengkot teknologi mengambil kelas kaligrafi. Namun sepuluh tahun kemudian Steve Jobs merasakan manfaatnya. Saat timnya mendesain komputer Macintosh yang pertama, Steve Jobs menekankan unsur keindahan dalam hal tampilan, termasuk huruf-hurufnya. Kita dapat mengetahu sekarang ini bahwa produk-produk keluaran Apple terkenal dengan keindahannya. Tidak kaku dan monoton. Bahkan, keunggulan inilah yang menjadikan produk-produk tersebut menjadi laris manis di pasaran.

Kemudian pidatonya dilanjutkan dengan beberapa ‘tragedi kehidupan’ yang menimpanya, salah satunya adalah saat dia dipecat dari Apple (yang notabene adalah perusahaan yang didirikannya sendiri). Pada bagian ketiga, dia mengungkapkan bagaimana cara dia memandang  dan menjalani kehidupan setelah divonis mengidap tumor pankreas. Kata-kata mutiara yang sangat menancap dalam hatinya adalah “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Saya sangat menyarankan Anda untuk membaca pidato tersebut secara keseluruhan. Mungkin itu merupakan salah satu pidato yang paling inspiratif dari semua pidato yang pernah Anda tahu, terutama bagi Anda yang masih mengejar cita-cita. Petuah paling penting dari Steve Jobs kepada wisudawan Stanford saat itu, “Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya.”

Alkitab: Dasar untuk Melihat Segala Sesuatu

Steve Jobs menyebutnya dengan takdir atau jalan hidup. Namun, kita sebagai orang percaya harus kembali kepada Alkitab sebagai dasar untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini. Paulus mengatakan dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Wah, ternyata apa yang dipikirkan Steve Jobs sebenarnya ada di dalam Alkitab. Bahkan, Alkitab menyatakannya dengan lebih indah lagi. Tepat bahwa setelah kejatuhannya ke dalam dosa, manusia masih memancarkan sisa-sisa kemuliaan Allah, walaupun redup. Steve Jobs yang bukan orang Kristen dapat mengerti bahwa ada ‘sesuatu’ yang menggerakkan hidup ini. Kehidupan masing-masing orang merupakan suatu rangkaian yang akan membentuk jalan ceritanya sendiri.

Mosaic of Christ Pantocrator from Hagia Sophia from the Deesis mosaic.
Sumber: wikipedia

Anda tahu mozaik? Saya memberikan salah satu contohnya pada gambar di samping. Indah bukan? Sebenarnya mozaik yang indah itu merupakan gabungan dari pecahan-pecahan kaca. Jika kita mengambil salah satu kaca dari mozaik tersebut, yang kita dapati hanyalah kaca berwarna dengan bentuk yang mungkin tidak beraturan. Atau jika kita hanya melihat secara parsial, misalnya hanya melihat beberapa kaca yang ada di pojok atas saja, maka kita tidak akan menemui makna apa-apa. Namun saat kita menggabungkannya dan melihatnya secara keseluruhan, akan nampak sebuah karya seni yang sangat indah. Demikian juga dengan hidup kita. Jika kita hanya melihatnya sepotong-sepotong, mungkin yang ada hanyalah kekecewaan dan putus asa. Namun, lihatlah secara keseluruhan (mungkin Anda baru dapat melakukannya setelah berpuluh-puluh tahun kemudian), maka nampaklah sebuah rangkaian perjalanan hidup yang sangat berharga untuk dikenang.

Janji Allah Bersifat Inklusif

Kita akan merenungkan ayat ini secara lebih dalam. Bagaimana sifat janji Allah? Pertama, janji Allah bersifat inklusif. Hal ini diwakili oleh kata-kata ‘segala sesuatu’. Apa artinya? Tidak ada satu titik pun dalam kehidupan ini yang lolos dari rancangan Allah. Mari kita lihat ayat ini dari sebuah versi dalam bahasa Ingris, “God causes all things to work together for good to those who love God” (NASV). Terjemahan bebasnya, Allah menyebabkan segala sesuatu untuk bekerja bersama-sama bagi mereka yang mengasihi Dia. Sangat jelas bukan? Bahkan di situ dikatakan bekerja bersama-sama. Hal ini berarti antara satu titik dengan titik lain dalam kehidupan seseorang, ataupun saat titik tersebut bersinggungan dengan titik dalam kehidupan orang lain, Allah menyusunnya sedemikian rupa untuk menggenapi rencana-Nya. Istilahnya, Allah mengorkestrasikannya. Anda tentu pernah melihat bagaimana seorang konduktor menggabungkan puluhan orang untuk memainkan alat musik yang berbeda-beda dalam sebuah orkestra bukan? Perpaduan berbagai alat musik dan nada dalam orkestra tersebut menghasilkan sebuah karya yang sangat indah.

Dengan inklusivitas ini, berarti kita tidak bisa lagi memandang bahwa suatu peristiwa itu buruk, suatu peristiwa itu kebetulan, ataupun suatu peristiwa itu tidak berarti. Semua peristiwa ada dalam kontrol Allah. Kala seorang atheist melihat realitas di dunia ini, mereka akan mengatakan bahwa jika Allah ada, mengapa di dunia ini ada peperangan, kelaparan, ketidakadilan hukum, cacat fisik, dan segudang kekotoran lainnya? Kemudian bagi kita orang percaya, adakah bukti di Alkitab yang menyatakan bahwa Allah menggunakan suatu peristiwa yang mungkin dianggap tidak baik untuk menggenapi rencana-Nya? Banyak. Salah satunya, dibuktikan pada jalan hidup Yusuf. Memang pada awalnya dia pernah dijual oleh saudara-saudaranya hingga mengalami penderitaan dalam penjara di Mesir. Namun apa yang dikatakannya saat dia, sebagai orang yang sangat berkuasa di Mesir, bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang telah bertindak jahat? “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kej 45:5-8).

Yusuf memandang penderitaannya dengan cara yang benar, dimana memang dia telah dirancangkan oleh Allah menjadi penyelamat kaum keluarganya (dan menyelamatkan keturunan-keturunannya bangsa pilihan Allah). Lain cerita jika pada saat itu Yusuf masih berada di tengah-tengah saudaranya. Sangat mungkin mereka sekeluarga akan mati kelaparan. Alkitab pun akan terhenti sampai situ saja.

Janji Allah Bersifat Eksklusif

Yang kedua, ayat ini menyatakan juga bahwa janji Allah bersifat eksklusif. Hal ini diwakili oleh kata-kata “bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Berarti, segala sesuatu yang dialami oleh seseorang akan baik, dengan syarat bahwa orang tersebut mengasihi Allah. Dengan demikian, penderitaan yang dialami oleh orang di luar Kristus akan menjadi penderitaan belaka saja, tidak mempunyai arti dalam kekekalan. Begitu juga kesuksesan yang dialami oleh orang di luar Kristus akan menjadi kesuksesan dalam hidup duniawi saja dan tidak ada artinya dalam kekekalan. Namun, seperti yang dijelaskan dalam terjemahan bahasa Inggris di atas, apa yang dihasilkan oleh semua orang (walaupun bukan orang percaya) dapat digunakan Allah untuk menggenapi rencana-Nya.  Sebagai contoh, kita dapat melihat bagaimana penginjilan dapat lebih menjangkau orang-orang di seluruh dunia melalui kecanggihan teknologi Internet, kita dapat mendengarkan khotbah di gereja dengan baik karena adanya teknologi sound system, dan juga untuk pergi ke gereja kita hanya perlu waktu sebentar saja dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Yang perlu kita pahami lebih lanjut mengenai janji Allah yang bersifat eksklusif ini adalah:

  • —  Janji ini terbatas bagi mereka yang mengasihi Allah dan telah menyerahkan diri kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (bd. Kel 20:6; Ul 7:9; Mzm 37:17; Yes 56:4-7; 1Kor 2:9)
  • —  “Dalam segala sesuatu” tidak termasuk dosa atau kelalaian kita (Rm 8:6,13; 6:16,21,23; Gal 6:8); tidak seorang pun yang dapat membenarkan dosa dengan mengatakan bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan daripadanya

Beda Penderitaan Orang Fasik dan Orang Benar

Baik orang fasik maupun orang benar sama-sama mengalami penderitaan di dunia ini. Namun terdapat perbedaan yang sangat jelas antara keduanya. Apa yang Alkitab katakan tentang penderitaan yang dialami oleh orang fasik? “Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (Mzm 32:10), dan, “sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mzm 1:6). Semua hal yang dialami oleh orang fasik (baik susah maupun senang) tujuan akhirnya adalah kebinasaan. Andaikan seseorang mempunyai prestasi sekaliber Steve Jobs pun, JIKA dia bukan merupakan orang percaya, kesuksesannya tidak ada artinya di mata Tuhan. Bagaimana prestasinya bisa dipandang Tuhan, lha wong dia juga tidak mempersembahkannya untuk Tuhan kok. Karenanya, jika orang yang ada di luar Tuhan mengalami kegagalan secara terus-menerus, susah baginya untuk dapat bertekun di dalamnya. Pelariannya dapat bermacam-macam, mulai dari narkoba hingga kehancuran rumah tangga.

Lalu bagaimana kita sebagai orang percaya memandang penderitaan?

Bukan berarti bahwa kecelakaan, penderitaan, sakit, kematian, penderitaan adalah baik

TETAPI

Dalam semua itu, TUHAN dapat tetap bekerja untuk memberikan kebaikan bagi kita

Itulah cara pandang yang benar. Alkitab menyatakan bahwa, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yak 1:2-4)

Banyak contoh penderitaan yang dialami oleh orang benar, akan tetapi mereka menganggapnya sebagai suatu ujian yang pada akhirnya akan membawanya menuju iman yang murni kepada Tuhan. Yusuf dijual saudara-saudaranya dan dipenjara. Daud dikejar-kejar Saul dan musuh-musuh Israel. Ayub kehilangan harta benda dan keluarga. Yohanes Pembaptis dipancung kepalanya. Charles H. Spurgeon (orang yang dikenal sebagai Raja Pengkhotbah) menderita rheumatik kronis pada kaki. Kita dapat menambah daftar ini dengan penderitaan-penderitaan yang telah kita alami dalam hidup ini.

Penutup

Akhirnya, saya akan menutup renungan ini dengan mengutip sebuah ayat yang sangat indah dalam Alkitab. Ayat yang dapat menjadi sandaran bagi kita dalam melewati masa-masa krisis:

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh 3:11)

Kita harus mempunyai relasi yang kuat dengan Tuhan untuk mampu memahami kehidupan kita. Ada kutipan yang menyatakan bahwa ‘mengetahui tentang Tuhan tidak sama dengan mengenal Tuhan’. Kekristenan bukanlah suatu agama, melainkan relasi (antara Allah dan kita sebagai ciptaan-Nya).


Bertumbuh dalam Keluarga

Disampaikan dalam Kebaktian Remaja GII Hok Im Tong Bali pada hari Minggu, 8 Juli 2012

Bacaan: Mazmur 128:1-6

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai perikop ini, marilah kita renungkan satu pertanyaan mengenai keluarga. Menurut kita, apa yang ada di benak kita mengenai keluarga yang berbahagia itu? Mungkin ada yang berpikir bahwa keluarga yang berbahagia adalah keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Bisa makan makanan yang enak-enak. Bisa berlibur ke luar negeri. Bisa membeli apapun yang kita inginkan. Kemudian ada yang berpikir bahwa keluarga yang berbahagia adalah keluarga yang terpandang. Sang ayah merupakan orang yang mempunyai jabatan tinggi dan dihormati orang. Anak-anaknya berpendidikan tinggi dan kemudian bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan serba modern. Masyarakat seperti ini cenderung untuk menilai sebuah keberhasilan dengan apa yang bisa dilihat oleh mata. Satu keluarga dianggap berhasil jika memiliki hal-hal tersebut.

Tidak heran kita menemukan banyak orang yang bekerja sangat keras membanting tulang demi menyejahterakan keluarganya. Mereka berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Tidak jarang karena terdesak oleh kebutuhan untuk dipandang sebagai keluarga yang berhasil di mata masyarakat sekitar, mereka tidak segan-segan untuk mengambil jalan pintas demi memperoleh status sosial yang tinggi. Jika kalian sering membaca koran atau menonton berita di televisi, hampir tiap hari terdapat berita tentang para koruptor. Mereka melakukan hal yang tercela itu karena terdesak untuk mengejar kenikmatan duniawi. Semakin banyak uang yang mereka kumpulkan, semakin mewah rumah yang mereka tempati, maka semakin tinggi pula status sosial yang mereka dapatkan.

Kalau kita melihat kembali ke dalam Alkitab, Tuhan dengan jelas telah memberikan hikmat kepada manusia bahwa satu-satunya kebahagiaan keluarga adalah Tuhan sendiri. Dalam Mazmur 127 ayat pertama dikatakan bahwa “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Sia-sialah orang yang bekerja keras siang-malam demi mendapatkan kekayaan untuk keluarganya jika Tuhan tidak bertakhta di dalam rumah itu. Kita dapat melihat keluarga-keluarga di sekitar kita, dimana mereka mempunyai kekayaan yang berlimpah, namun karena keluarga tersebut bukan keluarga yang takut akan Tuhan maka kekayaan itu menjadi sia-sia. Kekayaan yang dimiliki tidak lagi menjadi berkat, namun menjadi sumber perpecahan. Anak-anak mereka sedari kecil terbiasa untuk menghambur-hamburkan kekayaan orangtuanya. Mereka tidak mempunyai konsep mengenai kerja keras karena tanpa berusaha pun mereka bisa memperoleh apa saja yang diinginkannya. Setelah mereka semua dewasa dan orangtuanya sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, akhirnya anak saling memperebutkan harta keluarga.

Dalam pasal 128 ini dikatakan bagaimana indahnya keluarga yang takut akan Tuhan. Sang ibu akan seperti pohon anggur di dalam rumah. Ibu, seperti halnya pohon anggur, akan menghasilkan buah-buah kehidupan yang dapat dinikmati oleh keluarganya. Dia akan memberikan kasih sayang dan kebahagiaan kepada keluarganya. Anak-anak akan menjadi seperti tunas pohon zaitun di sekeliling meja. Alkitab menyatakan bahwa anak-anak merupakan berkat Tuhan yang luar biasa dan sumber kebahagiaan, seperti yang tertulis pada Mazmur 127:5. Adalah anugerah yang luar biasa saat semua anggota keluarga dapat berkumpul di sekeliling meja bersama-sama. Saya dan adik-adik saya, kami empat bersaudara, semua keluar rumah karena harus pergi keluar kota untuk kuliah. Dan saat-saat yang paling ditunggu adalah liburan semester sehingga kami semua bisa pulang ke rumah dan berkumpul. Merupakan suatu kenikmatan besar untuk dapat menikmati kembali kebersamaan dalam keluarga. Biasanya salah satu dari kami akan membelikan makanan untuk dimakan bersama-sama. Walaupun makanan yang kami makan hanyalah makanan yang sederhana, tetapi kebersamaan itulah yang membuatnya menjadi nikmat. Anugerah seperti ini tidak dapat dinilai dengan uang. Apalah gunanya makan mewah tetapi kita hanya menikmatinya sendirian, jauh dari keluarga?

Berkat untuk keluarga akan terasa jika ada pertumbuhan iman dalam keluarga tersebut. Alkitab banyak mengajarkan mengenai prinsip-prinsip pertumbuhan iman dalam keluarga. Dasar yang terutama adalah, keluarga haruslah menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam seluruh aspek kehidupannya. Kita tidak boleh menganggap bahwa keluarga dan harta yang dimiliki adalah milik kita. Semuanya itu sebenarnya milik Tuhan. Dengan demikian kita harus menempatkan Tuhan sebagai pengendali dan pengarah dalam kehidupan keluarga. Banyak keluarga yang sering memikirkan kepentingannya sendiri tetapi sama sekali tidak pernah memberi ruang bagi Tuhan untuk ikut campur tangan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mereka pikirkan hanyalah hal-hal duniawi semacam mengalokasikan dana untuk membeli rumah dan mobil, menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus, atau liburan ke luar negeri. Memang hal-hal seperti itu penting, tetapi pernahkah keluarga kita meminta petunjuk dari Tuhan tentang apa yang Dia mau untuk kita lakukan? Keluarga Kristen haruslah menempatkan kepentingan Tuhan di atas segala-galanya.

Pada Amsal 3:6 dikatakan “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Tuhan haruslah dijadikan sebagai prioritas utama dalam kehidupan keluarga. Segala tindakan kita, segala pikiran kita, segala cita-cita kita sebagai anggota keluarga haruslah tertuju pada Tuhan. Lebih jauh lagi jika kita baca dalam Matius 6:33, Yesus berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan keberarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Perkataan Tuhan Yesus ini jelas sekali bahwa hal Kerajaan Allah harus diutamakan dan bukannya malah mencari kesenangan duniawi. Jika keluarga kita menyerahkan arah tujuannya kepada Tuhan saja, maka tidak ada sedikitpun kekhawatiran mengenai masa depan karena Tuhan sendiri yang akan menuntunnya. Keluarga Kristen tidak mengukur kesuksesan dengan ukuran-ukuran duniawi seperti tadinya mengontrak rumah kemudian sekarang mampu membeli rumah sendiri, tadinya hanya mempunyai sepeda motor kemudian sekarang mempunyai sebuah mobil, dan sebagainya. Namun ukuran kesuksesan sebuah keluarga Kristen adalah sejauh mana pertumbuhan iman masing-masing anggota keluarga tersebut dan seberapa jauh keluarga tersebut dipakai Tuhan.

Kalian sebagai remaja sama sekali tidak perlu khawatir mengenai masa depan kalian jika dianugerahi Tuhan keluarga yang mungkin ekonominya pas-pasan. Jangan berpikir bahwa nasib kalian ditentukan oleh apa yang keluarga kalian mampu berikan. Tetapi khawatirlah jika kalian melihat bahwa keluarga kalian tidak sepenuhnya memprioritaskan Tuhan di dalam hidup. Saya dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang serba kekurangan. Bahkan, bapak saya tidak mempunyai pendapatan tetap sehingga seringkali kebingungan tiap kali ada anaknya yang masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Akan tetapi, kedua orangtua saya adalah orang yang takut akan Tuhan, dan mereka menurunkannya kepada kami anak-anaknya. Seperti janji-Nya kepada orang-orang yang takut akan Dia, Tuhan sungguh menyertai kehidupan kami sekeluarga. Di tengah-tengah kekurangan yang ada, saya dan ketiga adik saya akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan hingga tahap sarjana. Bahkan, beberapa di antara kami mempunyai kemauan untuk terus meningkatkan pendidikannya setinggi-tingginya. Jika kembali mengingat masa lalu dimana sepertinya keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan studi, hal ini terlalu ajaib untuk dipikirkan. Akan tetapi, rancangan Tuhan selalu dapat digenapi-Nya. Maka, prioritaskanlah Tuhan dalam hidup kalian dan juga keluarga kalian.

Memprioritaskan Tuhan dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang sederhana. Sebagai contoh, jika menerima berkat, pertama-tama kita harus menyisihkan uang untuk persembahan dan kemudian baru dihitung untuk kebutuhan dan keinginan kita. Jangan dibalik urutannya, pertama-tama kita daftar dulu semua keinginan kita dan kemudian jika ada sisanya, kita baru mempersembahkannya buat Tuhan. Tuhan mau kita memberikan yang terbaik (Amsal 3:9: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu”), seperti juga Habel mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan sehingga Tuhan berkenan terhadap persembahannya. Jika kalian menerima uang dari orangtua, mulailah memikirkan untuk menyisihkannya terlebih dahulu bagi Tuhan dan baru kemudian memikirkan kebutuhan-kebutuhan kalian. Hal ini harus kalian tanamkan sedari muda sehingga jika suatu saat Tuhan memberkati kalian secara luar biasa saat kalian dewasa, kalian sudah terbiasa untuk membiarkan diri kalian dipakai sebagai alat Tuhan.

Prinsip pertumbuhan iman di dalam keluarga juga terdapat pada Ulangan 6:6-7. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Di sini ditekankan bahwa pengajaran akan Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus kapan saja dan dimana saja. Keluarga yang tidak mendalami Firman Tuhan tidak akan bisa menjadi keluarga yang kokoh. Saya ingatkan kepada kalian, jika keluarga kalian tidak dibiasakan untuk menggumuli Firman Tuhan sedari awal, suatu saat jika menghadapi permasalahan maka keluarga kalian rentan terhadap perpecahan. Mungkin sekarang semua anggota keluarga kalian masih berkumpul bersama-sama dalam satu rumah dan semuanya kelihatan baik-baik saja. Akan tetapi nantinya kalian akan pergi keluar dari rumah entah untuk kuliah, bekerja, ataupun menikah. Masing-masing anggota keluarga akan lebih banyak menerima didikan dari lingkungan di luar keluarga. Di situlah biasanya konflik akan mulai terasa. Jika keluarga tidak dibiasakan untuk mendalami Firman Tuhan sejak awal, akibatnya masing-masing anggota keluarga akan mempunyai pola pikir dan cara pandang yang berbeda-beda terhadap suatu masalah. Misalnya, kalian bilang tidak boleh pacaran dengan orang beda agama karena Alkitab mengajarkan demikian. Tetapi adik kalian tiba-tiba memperkenalkan pacar barunya dan mengatakan tidak apa-apa pacaran dengan orang yang beda agama, asalkan tetap saling menghormati. Hal seperti ini nantinya bisa menimbulkan perselisihan dalam keluarga.

Kita tahu bahwa keluarga dijadikan oleh Allah, bukan rancangan manusia. Allah mempunyai rencana-Nya sendiri terhadap masing-masing keluarga. Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga hendaknya semain bertumbuh menjadi seperti apa yang Allah inginkan. Keluarga yang sehat terdiri dari anggota-anggota yang saling menyemangati dan juga saling mengkoreksi. Tidak ada ego di antara anggota keluarga. Kalian tidak perlu berusaha menonjolkan diri untuk terlihat lebih berhasil dibanding dengan saudara-saudara kalian. Kalian juga tidak boleh iri hati kepada kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh saudara-saudara kalian. Justru kalian harus saling mendukung berdasarkan talenta yang Tuhan beri. Keluarga adalah satu tubuh, dimana masing-masing anggota tubuh mempunyai kegunaannya sendiri-sendiri.

Satu prinsip yang tidak boleh kalian lupakan adalah, kalian harus juga berbuah di dalam keluarga. Kalian harus berperan serta dalam pertumbuhan iman di keluarga kalian masing-masing. Hal pertama yang harus kalian lakukan untuk dapat turut serta dalam pertumbuhan iman keluarga adalah melaksanakan nasihat yang tertera didalam Amsal 6:20-21, yaitu mematuhi perintah ayah dan ibu. Ini merupakan poin yang sangat penting karena kalau tidak dilakukan, maka kalian tidak akan bisa digunakan Tuhan untuk menumbuhkan iman keluarga kalian. Bagaimana mungkin orangtua dan saudara-saudara kalian mau mendengarkan apa yang kalian katakan jika mereka melihat bahwa kalian adalah anak yang tidak berbakti kepada orangtua?

Para remaja, hendaknya kalian betul-betul mendengarkan dan mengikuti ajaran orangtua! Mereka lebih dahulu hidup di dunia ini daripada kalian. Ada dua hal yang akan saya tekankan disini mengenai pentingnya mendengarkan nasihat orangtua. Dari sisi negatif, nasihat orangtua akan menjauhkan kalian dari kegagalan-kegagalan yang mungkin pernah mereka alami. Mereka tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama seperti yang mereka alami. Sehingga sering kita dengar orangtua yang menasihati anaknya demikian: “Nak, belajarlah di sekolah dengan giat, jangan sampai kamu menjadi seperti papa. Susah hidupnya”. Kalian harus betul-betul berusaha memahami mengapa ayah kalian berkata seperti ini. Jangan sampai kalian membantah nasihat orangtua dengan balik berkata, “Papa dulu juga begitu, ngapain sekarang nyuruh-nyuruh anaknya”. Kalian tidak boleh merendahkan orangtua kalian dengan hanya melihat kegagalan mereka.

Kemudian dari sisi positif, nasihat orangtua akan memberi kalian suatu shortcut atau jalan pintas dalam memahami dunia ini. Dalam dunia ilmu pengetahuan, ada istilah latin yang sangat terkenal, yaitu nani gigantum humeris insidentes (standing on the shoulder giants). Semua orang-orang hebat di dunia betul-betul memahami ini. Mereka tahu bahwa jika mereka hanya mengandalkan otak dan pengalaman mereka sendiri untuk menguasai suatu bidang ilmu, mereka tidak akan mencapai hal-hal besar. Bagaimana mungkin B.J. Habibie bisa merancang pesawat terbang jika beliau juga harus ahli dalam elektronika pesawat, rancang bangun mesin, termodinamika, aeronautika, serta flight control software? Tidak mungkin semua harus dipelajari sendiri, sedangkan masa hidup manusia paling-paling 70 tahun. Beliau membutuhkan penemuan dari ahli-ahli dalam berbagai disiplin ilmu yang lain. Banyak hal yang terlalu kompleks di masa kini. Para insinyur-insinyur yang hebat akan menggunakan ide-ide yang pernah ditemukan oleh orang-orang sebelumnya dan menyempurnakannya. Begitu juga dengan nasihat orangtua. Kita dalam usia 17 tahun bisa memperoleh hikmat yang dimiliki oleh orang berusia 50 tahun dengan cara mendengarkan baik-baik apa yang diajarkan oleh orangtua kita.

Kedua, tingkatkan komunikasi di antara anggota keluarga. Berapa banyak di antara kalian yang makan malam bersama dengan seluruh anggota keluarga secara teratur? Berapa banyak di antara kalian yang mengajari adik kalian pelajaran di sekolah? Mulai saat ini, marilah kita berjanji untuk memperbaiki komunikasi dengan orangtua kita dan dengan anggota keluarga yang lain. Kalian harus peka terhadap apa yang terjadi di dalam keluarga kalian. Mungkin ada di antara kalian yang orangtuanya sedang mengalami pergumulan di dalam pernikahan mereka. Biasanya ayah atau ibu mempunyai anak yang cukup dekat dengannya dan biasa diajak curhat. Kalian bisa berperan dalam memberikan masukan-masukan berdasarkan pengetahuan Alkitab yang sudah kalian dapatkan. Jika ibu kesulitan untuk berbicara dengan ayah, kalian bisa menjadi sumber penguat bagi ibu, atau bahkan nantinya bisa memenangkan ayah kalian untuk dapat berdamai kembali.

Kebiasaan komunikasi yang baik yang dapat dilakukan adalah sharing mengenai Firman Tuhan yang kalian terima di gereja. Cobalah untuk mulai membicarakannya saat perjalanan pulang di mobil, atau mungkin ada yang makan siang bersama di food court setelah selesai kebaktian ini. Bicarakanlah Firman Tuhan dibanding dengan hanya bicara mengenai jalan bypass Ngurah Rai yang macet, makanan di food court kurang enak, atau nanti sore mau jalan-jalan kemana. Papa mertua saya mempunyai kebiasaan ini setiap kali kami pulang gereja. Kami sekeluarga akan diajak makan bersama di suatu tempat dan kemudian masing-masing dari kami akan memberikan pandangannya mengenai Firman Tuhan yang telah diterima. Seringkali, pemahaman orang lain dapat semakin memperlengkapi pemahaman yang telah kita dapatkan dari khotbah yang sama.

Kita juga harus memperhatikan anggota keluarga yang lain, seperti yang diperintahkan dalam 1 Korintus 12:25, “tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan”. Jangan sampai ada anggota keluarga yang mencoba untuk menghadapi permasalahannya sendirian. Jika seorang anggota keluarga tidak mempunyai saudara ataupun orangtua yang bisa diajak berdiskusi/sharing, pada akhirnya dia akan mencari solusi di luar lingkungan keluarga. Hal ini bisa berbahaya terutama jika orang yang diajak sharing adalah orang yang belum percaya. Mereka akan memberi masukan sesuai dengan pikiran-pikiran mereka dan filsafat-filsafat keduniawian. Solusi yang diberikan semata-mata bertujuan untuk melepaskan diri dari masalah secara sesaat, namun di kemudian hari akan timbul masalah yang lebih besar lagi atau bahkan solusi yang diberikan sangat melawan Tuhan. Maka kita harus peka jika mempunyai saudara, terutama adik, untuk ikut ambil bagian di dalam pergumulan hidup mereka. Janganlah kita hanya mempedulikan kehidupan kita saja.

Ketiga, pergunakan talenta kita untuk berbagian dalam pertumbuhan iman keluarga. Semua anggota keluarga wajib melakukan hal ini. Kita tidak boleh berpikir bahwa orangtua sebagai satu-satunya pihak yang bertugas untuk menjaga pertumbuhan iman dalam keluarga. Mungkin kalian akan berkata bahwa kalian masih muda, belum berpengalaman, belum bijaksana untuk dapat mengimbangi orangtua kalian. Tetapi kalian harus mulai merenungkan, apa sih talenta yang telah Tuhan berikan ke dalam diri kalian yang bisa kalian pergunakan untuk dapat berperan-serta dalam pertumbuhan iman keluarga?

Salah satu keunggulan kalian yang akan saya jelaskan adalah: teknologi. Kalian sebagai remaja kemungkinan lebih menguasai teknologi dibanding orangtua kalian. Misalnya saja dalam penggunaan Internet. Kalian bisa mencari-cari bahan saat teduh, renungan, atau blog Kristen untuk dibagikan kepada keluarga. Banyak sekali hamba Tuhan, gereja, ataupun lembaga Kristen yang mencantumkan artikelnya di Internet. Kalian juga bisa mulai memikirkan satu topik khusus, misalnya mengenai perpuluhan, kalian bisa mencari bahan-bahan pembelajarannya di Internet dan kemudian membagikannya kepada orangtua atau saudara-saudara kalian. Saya mempunyai kebiasaan ini. Seringkali saya browsing Internet untuk mendapatkan bahan pelajaran yang bermutu. Kemudian saya akan membahasnya bersama-sama dengan istri saya di rumah. Atau jika orangtua berkunjung ke rumah, saya akan membagikan bahan tersebut kepada mereka.

Hal yang terakhir yang akan saya tekankan adalah penginjilan di dalam keluarga. Apakah ada di antara kalian yang mempunyai orangtua yang belum percaya? Adik atau kakak yang belum percaya? Oom, tante, sepupu, atau bahkan pembantu yang belum percaya? Kita harus mulai memikirkan untuk menarik mereka kepada Injil. Seperti dalam renungan saya dua minggu lalu tentang empat pengemis kusta di Samaria yang menemukan harta (2 Raja-raja 7:1-9). Mereka tidak menyimpan kabar baik itu untuk dirinya sendiri, tetapi memberitahukannya kepada raja. Kita tidak boleh egois dengan tidak memberitakan Injil kepada keluarga kita yang lain.

Kiranya renungan pada hari ini semakin menyadarkan kita tentang berkat-berkat Tuhan di dalam keluarga, dan biarlah terang kita bercahaya atas keluarga dimana Tuhan tempatkan. Amin.

Garis besar khotbah
Nats        : Mazmur 128:1-6
Ayat Mas : Amsal 6:20-21

I. Dasar Kebahagiaan Keluarga
a. Bukan materi, tetapi takut akan Tuhan (Mzm 127:1)
b. Usaha manusia sia-sia (Mzm 127:1)
II. Penerapan takut akan Tuhan dalam keluarga
a. Tuhan sebagai prioritas utama (Amsal 3:6, Mat 6:33)
b. Pengajaran kebenaran Firman Tuhan dalam keluarga (Amsal 1:7; Ulangan    6:6-7)
c. Keluarga yang bertumbuh makin menyerupai Kristus
III. Peran Remaja dalam Pertumbuhan Iman Keluarga
a. Melakukan nasihat orangtua (Amsal 6:20-21)
b. Membangun komunikasi dan persekutuan (1 Korintus 12:25)
c. Menggunakan talenta untuk ikut berbagian dalam pertumbuhan iman keluarga
d. Penginjilan keluarga


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.