Arsip Tag: mazmur 127

Bertumbuh dalam Keluarga

Disampaikan dalam Kebaktian Remaja GII Hok Im Tong Bali pada hari Minggu, 8 Juli 2012

Bacaan: Mazmur 128:1-6

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai perikop ini, marilah kita renungkan satu pertanyaan mengenai keluarga. Menurut kita, apa yang ada di benak kita mengenai keluarga yang berbahagia itu? Mungkin ada yang berpikir bahwa keluarga yang berbahagia adalah keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Bisa makan makanan yang enak-enak. Bisa berlibur ke luar negeri. Bisa membeli apapun yang kita inginkan. Kemudian ada yang berpikir bahwa keluarga yang berbahagia adalah keluarga yang terpandang. Sang ayah merupakan orang yang mempunyai jabatan tinggi dan dihormati orang. Anak-anaknya berpendidikan tinggi dan kemudian bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan serba modern. Masyarakat seperti ini cenderung untuk menilai sebuah keberhasilan dengan apa yang bisa dilihat oleh mata. Satu keluarga dianggap berhasil jika memiliki hal-hal tersebut.

Tidak heran kita menemukan banyak orang yang bekerja sangat keras membanting tulang demi menyejahterakan keluarganya. Mereka berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Tidak jarang karena terdesak oleh kebutuhan untuk dipandang sebagai keluarga yang berhasil di mata masyarakat sekitar, mereka tidak segan-segan untuk mengambil jalan pintas demi memperoleh status sosial yang tinggi. Jika kalian sering membaca koran atau menonton berita di televisi, hampir tiap hari terdapat berita tentang para koruptor. Mereka melakukan hal yang tercela itu karena terdesak untuk mengejar kenikmatan duniawi. Semakin banyak uang yang mereka kumpulkan, semakin mewah rumah yang mereka tempati, maka semakin tinggi pula status sosial yang mereka dapatkan.

Kalau kita melihat kembali ke dalam Alkitab, Tuhan dengan jelas telah memberikan hikmat kepada manusia bahwa satu-satunya kebahagiaan keluarga adalah Tuhan sendiri. Dalam Mazmur 127 ayat pertama dikatakan bahwa “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Sia-sialah orang yang bekerja keras siang-malam demi mendapatkan kekayaan untuk keluarganya jika Tuhan tidak bertakhta di dalam rumah itu. Kita dapat melihat keluarga-keluarga di sekitar kita, dimana mereka mempunyai kekayaan yang berlimpah, namun karena keluarga tersebut bukan keluarga yang takut akan Tuhan maka kekayaan itu menjadi sia-sia. Kekayaan yang dimiliki tidak lagi menjadi berkat, namun menjadi sumber perpecahan. Anak-anak mereka sedari kecil terbiasa untuk menghambur-hamburkan kekayaan orangtuanya. Mereka tidak mempunyai konsep mengenai kerja keras karena tanpa berusaha pun mereka bisa memperoleh apa saja yang diinginkannya. Setelah mereka semua dewasa dan orangtuanya sudah tidak lagi mempunyai kekuatan, akhirnya anak saling memperebutkan harta keluarga.

Dalam pasal 128 ini dikatakan bagaimana indahnya keluarga yang takut akan Tuhan. Sang ibu akan seperti pohon anggur di dalam rumah. Ibu, seperti halnya pohon anggur, akan menghasilkan buah-buah kehidupan yang dapat dinikmati oleh keluarganya. Dia akan memberikan kasih sayang dan kebahagiaan kepada keluarganya. Anak-anak akan menjadi seperti tunas pohon zaitun di sekeliling meja. Alkitab menyatakan bahwa anak-anak merupakan berkat Tuhan yang luar biasa dan sumber kebahagiaan, seperti yang tertulis pada Mazmur 127:5. Adalah anugerah yang luar biasa saat semua anggota keluarga dapat berkumpul di sekeliling meja bersama-sama. Saya dan adik-adik saya, kami empat bersaudara, semua keluar rumah karena harus pergi keluar kota untuk kuliah. Dan saat-saat yang paling ditunggu adalah liburan semester sehingga kami semua bisa pulang ke rumah dan berkumpul. Merupakan suatu kenikmatan besar untuk dapat menikmati kembali kebersamaan dalam keluarga. Biasanya salah satu dari kami akan membelikan makanan untuk dimakan bersama-sama. Walaupun makanan yang kami makan hanyalah makanan yang sederhana, tetapi kebersamaan itulah yang membuatnya menjadi nikmat. Anugerah seperti ini tidak dapat dinilai dengan uang. Apalah gunanya makan mewah tetapi kita hanya menikmatinya sendirian, jauh dari keluarga?

Berkat untuk keluarga akan terasa jika ada pertumbuhan iman dalam keluarga tersebut. Alkitab banyak mengajarkan mengenai prinsip-prinsip pertumbuhan iman dalam keluarga. Dasar yang terutama adalah, keluarga haruslah menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam seluruh aspek kehidupannya. Kita tidak boleh menganggap bahwa keluarga dan harta yang dimiliki adalah milik kita. Semuanya itu sebenarnya milik Tuhan. Dengan demikian kita harus menempatkan Tuhan sebagai pengendali dan pengarah dalam kehidupan keluarga. Banyak keluarga yang sering memikirkan kepentingannya sendiri tetapi sama sekali tidak pernah memberi ruang bagi Tuhan untuk ikut campur tangan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mereka pikirkan hanyalah hal-hal duniawi semacam mengalokasikan dana untuk membeli rumah dan mobil, menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus, atau liburan ke luar negeri. Memang hal-hal seperti itu penting, tetapi pernahkah keluarga kita meminta petunjuk dari Tuhan tentang apa yang Dia mau untuk kita lakukan? Keluarga Kristen haruslah menempatkan kepentingan Tuhan di atas segala-galanya.

Pada Amsal 3:6 dikatakan “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Tuhan haruslah dijadikan sebagai prioritas utama dalam kehidupan keluarga. Segala tindakan kita, segala pikiran kita, segala cita-cita kita sebagai anggota keluarga haruslah tertuju pada Tuhan. Lebih jauh lagi jika kita baca dalam Matius 6:33, Yesus berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan keberarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Perkataan Tuhan Yesus ini jelas sekali bahwa hal Kerajaan Allah harus diutamakan dan bukannya malah mencari kesenangan duniawi. Jika keluarga kita menyerahkan arah tujuannya kepada Tuhan saja, maka tidak ada sedikitpun kekhawatiran mengenai masa depan karena Tuhan sendiri yang akan menuntunnya. Keluarga Kristen tidak mengukur kesuksesan dengan ukuran-ukuran duniawi seperti tadinya mengontrak rumah kemudian sekarang mampu membeli rumah sendiri, tadinya hanya mempunyai sepeda motor kemudian sekarang mempunyai sebuah mobil, dan sebagainya. Namun ukuran kesuksesan sebuah keluarga Kristen adalah sejauh mana pertumbuhan iman masing-masing anggota keluarga tersebut dan seberapa jauh keluarga tersebut dipakai Tuhan.

Kalian sebagai remaja sama sekali tidak perlu khawatir mengenai masa depan kalian jika dianugerahi Tuhan keluarga yang mungkin ekonominya pas-pasan. Jangan berpikir bahwa nasib kalian ditentukan oleh apa yang keluarga kalian mampu berikan. Tetapi khawatirlah jika kalian melihat bahwa keluarga kalian tidak sepenuhnya memprioritaskan Tuhan di dalam hidup. Saya dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang serba kekurangan. Bahkan, bapak saya tidak mempunyai pendapatan tetap sehingga seringkali kebingungan tiap kali ada anaknya yang masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Akan tetapi, kedua orangtua saya adalah orang yang takut akan Tuhan, dan mereka menurunkannya kepada kami anak-anaknya. Seperti janji-Nya kepada orang-orang yang takut akan Dia, Tuhan sungguh menyertai kehidupan kami sekeluarga. Di tengah-tengah kekurangan yang ada, saya dan ketiga adik saya akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan hingga tahap sarjana. Bahkan, beberapa di antara kami mempunyai kemauan untuk terus meningkatkan pendidikannya setinggi-tingginya. Jika kembali mengingat masa lalu dimana sepertinya keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan studi, hal ini terlalu ajaib untuk dipikirkan. Akan tetapi, rancangan Tuhan selalu dapat digenapi-Nya. Maka, prioritaskanlah Tuhan dalam hidup kalian dan juga keluarga kalian.

Memprioritaskan Tuhan dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang sederhana. Sebagai contoh, jika menerima berkat, pertama-tama kita harus menyisihkan uang untuk persembahan dan kemudian baru dihitung untuk kebutuhan dan keinginan kita. Jangan dibalik urutannya, pertama-tama kita daftar dulu semua keinginan kita dan kemudian jika ada sisanya, kita baru mempersembahkannya buat Tuhan. Tuhan mau kita memberikan yang terbaik (Amsal 3:9: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu”), seperti juga Habel mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan sehingga Tuhan berkenan terhadap persembahannya. Jika kalian menerima uang dari orangtua, mulailah memikirkan untuk menyisihkannya terlebih dahulu bagi Tuhan dan baru kemudian memikirkan kebutuhan-kebutuhan kalian. Hal ini harus kalian tanamkan sedari muda sehingga jika suatu saat Tuhan memberkati kalian secara luar biasa saat kalian dewasa, kalian sudah terbiasa untuk membiarkan diri kalian dipakai sebagai alat Tuhan.

Prinsip pertumbuhan iman di dalam keluarga juga terdapat pada Ulangan 6:6-7. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Di sini ditekankan bahwa pengajaran akan Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus kapan saja dan dimana saja. Keluarga yang tidak mendalami Firman Tuhan tidak akan bisa menjadi keluarga yang kokoh. Saya ingatkan kepada kalian, jika keluarga kalian tidak dibiasakan untuk menggumuli Firman Tuhan sedari awal, suatu saat jika menghadapi permasalahan maka keluarga kalian rentan terhadap perpecahan. Mungkin sekarang semua anggota keluarga kalian masih berkumpul bersama-sama dalam satu rumah dan semuanya kelihatan baik-baik saja. Akan tetapi nantinya kalian akan pergi keluar dari rumah entah untuk kuliah, bekerja, ataupun menikah. Masing-masing anggota keluarga akan lebih banyak menerima didikan dari lingkungan di luar keluarga. Di situlah biasanya konflik akan mulai terasa. Jika keluarga tidak dibiasakan untuk mendalami Firman Tuhan sejak awal, akibatnya masing-masing anggota keluarga akan mempunyai pola pikir dan cara pandang yang berbeda-beda terhadap suatu masalah. Misalnya, kalian bilang tidak boleh pacaran dengan orang beda agama karena Alkitab mengajarkan demikian. Tetapi adik kalian tiba-tiba memperkenalkan pacar barunya dan mengatakan tidak apa-apa pacaran dengan orang yang beda agama, asalkan tetap saling menghormati. Hal seperti ini nantinya bisa menimbulkan perselisihan dalam keluarga.

Kita tahu bahwa keluarga dijadikan oleh Allah, bukan rancangan manusia. Allah mempunyai rencana-Nya sendiri terhadap masing-masing keluarga. Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga hendaknya semain bertumbuh menjadi seperti apa yang Allah inginkan. Keluarga yang sehat terdiri dari anggota-anggota yang saling menyemangati dan juga saling mengkoreksi. Tidak ada ego di antara anggota keluarga. Kalian tidak perlu berusaha menonjolkan diri untuk terlihat lebih berhasil dibanding dengan saudara-saudara kalian. Kalian juga tidak boleh iri hati kepada kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh saudara-saudara kalian. Justru kalian harus saling mendukung berdasarkan talenta yang Tuhan beri. Keluarga adalah satu tubuh, dimana masing-masing anggota tubuh mempunyai kegunaannya sendiri-sendiri.

Satu prinsip yang tidak boleh kalian lupakan adalah, kalian harus juga berbuah di dalam keluarga. Kalian harus berperan serta dalam pertumbuhan iman di keluarga kalian masing-masing. Hal pertama yang harus kalian lakukan untuk dapat turut serta dalam pertumbuhan iman keluarga adalah melaksanakan nasihat yang tertera didalam Amsal 6:20-21, yaitu mematuhi perintah ayah dan ibu. Ini merupakan poin yang sangat penting karena kalau tidak dilakukan, maka kalian tidak akan bisa digunakan Tuhan untuk menumbuhkan iman keluarga kalian. Bagaimana mungkin orangtua dan saudara-saudara kalian mau mendengarkan apa yang kalian katakan jika mereka melihat bahwa kalian adalah anak yang tidak berbakti kepada orangtua?

Para remaja, hendaknya kalian betul-betul mendengarkan dan mengikuti ajaran orangtua! Mereka lebih dahulu hidup di dunia ini daripada kalian. Ada dua hal yang akan saya tekankan disini mengenai pentingnya mendengarkan nasihat orangtua. Dari sisi negatif, nasihat orangtua akan menjauhkan kalian dari kegagalan-kegagalan yang mungkin pernah mereka alami. Mereka tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama seperti yang mereka alami. Sehingga sering kita dengar orangtua yang menasihati anaknya demikian: “Nak, belajarlah di sekolah dengan giat, jangan sampai kamu menjadi seperti papa. Susah hidupnya”. Kalian harus betul-betul berusaha memahami mengapa ayah kalian berkata seperti ini. Jangan sampai kalian membantah nasihat orangtua dengan balik berkata, “Papa dulu juga begitu, ngapain sekarang nyuruh-nyuruh anaknya”. Kalian tidak boleh merendahkan orangtua kalian dengan hanya melihat kegagalan mereka.

Kemudian dari sisi positif, nasihat orangtua akan memberi kalian suatu shortcut atau jalan pintas dalam memahami dunia ini. Dalam dunia ilmu pengetahuan, ada istilah latin yang sangat terkenal, yaitu nani gigantum humeris insidentes (standing on the shoulder giants). Semua orang-orang hebat di dunia betul-betul memahami ini. Mereka tahu bahwa jika mereka hanya mengandalkan otak dan pengalaman mereka sendiri untuk menguasai suatu bidang ilmu, mereka tidak akan mencapai hal-hal besar. Bagaimana mungkin B.J. Habibie bisa merancang pesawat terbang jika beliau juga harus ahli dalam elektronika pesawat, rancang bangun mesin, termodinamika, aeronautika, serta flight control software? Tidak mungkin semua harus dipelajari sendiri, sedangkan masa hidup manusia paling-paling 70 tahun. Beliau membutuhkan penemuan dari ahli-ahli dalam berbagai disiplin ilmu yang lain. Banyak hal yang terlalu kompleks di masa kini. Para insinyur-insinyur yang hebat akan menggunakan ide-ide yang pernah ditemukan oleh orang-orang sebelumnya dan menyempurnakannya. Begitu juga dengan nasihat orangtua. Kita dalam usia 17 tahun bisa memperoleh hikmat yang dimiliki oleh orang berusia 50 tahun dengan cara mendengarkan baik-baik apa yang diajarkan oleh orangtua kita.

Kedua, tingkatkan komunikasi di antara anggota keluarga. Berapa banyak di antara kalian yang makan malam bersama dengan seluruh anggota keluarga secara teratur? Berapa banyak di antara kalian yang mengajari adik kalian pelajaran di sekolah? Mulai saat ini, marilah kita berjanji untuk memperbaiki komunikasi dengan orangtua kita dan dengan anggota keluarga yang lain. Kalian harus peka terhadap apa yang terjadi di dalam keluarga kalian. Mungkin ada di antara kalian yang orangtuanya sedang mengalami pergumulan di dalam pernikahan mereka. Biasanya ayah atau ibu mempunyai anak yang cukup dekat dengannya dan biasa diajak curhat. Kalian bisa berperan dalam memberikan masukan-masukan berdasarkan pengetahuan Alkitab yang sudah kalian dapatkan. Jika ibu kesulitan untuk berbicara dengan ayah, kalian bisa menjadi sumber penguat bagi ibu, atau bahkan nantinya bisa memenangkan ayah kalian untuk dapat berdamai kembali.

Kebiasaan komunikasi yang baik yang dapat dilakukan adalah sharing mengenai Firman Tuhan yang kalian terima di gereja. Cobalah untuk mulai membicarakannya saat perjalanan pulang di mobil, atau mungkin ada yang makan siang bersama di food court setelah selesai kebaktian ini. Bicarakanlah Firman Tuhan dibanding dengan hanya bicara mengenai jalan bypass Ngurah Rai yang macet, makanan di food court kurang enak, atau nanti sore mau jalan-jalan kemana. Papa mertua saya mempunyai kebiasaan ini setiap kali kami pulang gereja. Kami sekeluarga akan diajak makan bersama di suatu tempat dan kemudian masing-masing dari kami akan memberikan pandangannya mengenai Firman Tuhan yang telah diterima. Seringkali, pemahaman orang lain dapat semakin memperlengkapi pemahaman yang telah kita dapatkan dari khotbah yang sama.

Kita juga harus memperhatikan anggota keluarga yang lain, seperti yang diperintahkan dalam 1 Korintus 12:25, “tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan”. Jangan sampai ada anggota keluarga yang mencoba untuk menghadapi permasalahannya sendirian. Jika seorang anggota keluarga tidak mempunyai saudara ataupun orangtua yang bisa diajak berdiskusi/sharing, pada akhirnya dia akan mencari solusi di luar lingkungan keluarga. Hal ini bisa berbahaya terutama jika orang yang diajak sharing adalah orang yang belum percaya. Mereka akan memberi masukan sesuai dengan pikiran-pikiran mereka dan filsafat-filsafat keduniawian. Solusi yang diberikan semata-mata bertujuan untuk melepaskan diri dari masalah secara sesaat, namun di kemudian hari akan timbul masalah yang lebih besar lagi atau bahkan solusi yang diberikan sangat melawan Tuhan. Maka kita harus peka jika mempunyai saudara, terutama adik, untuk ikut ambil bagian di dalam pergumulan hidup mereka. Janganlah kita hanya mempedulikan kehidupan kita saja.

Ketiga, pergunakan talenta kita untuk berbagian dalam pertumbuhan iman keluarga. Semua anggota keluarga wajib melakukan hal ini. Kita tidak boleh berpikir bahwa orangtua sebagai satu-satunya pihak yang bertugas untuk menjaga pertumbuhan iman dalam keluarga. Mungkin kalian akan berkata bahwa kalian masih muda, belum berpengalaman, belum bijaksana untuk dapat mengimbangi orangtua kalian. Tetapi kalian harus mulai merenungkan, apa sih talenta yang telah Tuhan berikan ke dalam diri kalian yang bisa kalian pergunakan untuk dapat berperan-serta dalam pertumbuhan iman keluarga?

Salah satu keunggulan kalian yang akan saya jelaskan adalah: teknologi. Kalian sebagai remaja kemungkinan lebih menguasai teknologi dibanding orangtua kalian. Misalnya saja dalam penggunaan Internet. Kalian bisa mencari-cari bahan saat teduh, renungan, atau blog Kristen untuk dibagikan kepada keluarga. Banyak sekali hamba Tuhan, gereja, ataupun lembaga Kristen yang mencantumkan artikelnya di Internet. Kalian juga bisa mulai memikirkan satu topik khusus, misalnya mengenai perpuluhan, kalian bisa mencari bahan-bahan pembelajarannya di Internet dan kemudian membagikannya kepada orangtua atau saudara-saudara kalian. Saya mempunyai kebiasaan ini. Seringkali saya browsing Internet untuk mendapatkan bahan pelajaran yang bermutu. Kemudian saya akan membahasnya bersama-sama dengan istri saya di rumah. Atau jika orangtua berkunjung ke rumah, saya akan membagikan bahan tersebut kepada mereka.

Hal yang terakhir yang akan saya tekankan adalah penginjilan di dalam keluarga. Apakah ada di antara kalian yang mempunyai orangtua yang belum percaya? Adik atau kakak yang belum percaya? Oom, tante, sepupu, atau bahkan pembantu yang belum percaya? Kita harus mulai memikirkan untuk menarik mereka kepada Injil. Seperti dalam renungan saya dua minggu lalu tentang empat pengemis kusta di Samaria yang menemukan harta (2 Raja-raja 7:1-9). Mereka tidak menyimpan kabar baik itu untuk dirinya sendiri, tetapi memberitahukannya kepada raja. Kita tidak boleh egois dengan tidak memberitakan Injil kepada keluarga kita yang lain.

Kiranya renungan pada hari ini semakin menyadarkan kita tentang berkat-berkat Tuhan di dalam keluarga, dan biarlah terang kita bercahaya atas keluarga dimana Tuhan tempatkan. Amin.

Garis besar khotbah
Nats        : Mazmur 128:1-6
Ayat Mas : Amsal 6:20-21

I. Dasar Kebahagiaan Keluarga
a. Bukan materi, tetapi takut akan Tuhan (Mzm 127:1)
b. Usaha manusia sia-sia (Mzm 127:1)
II. Penerapan takut akan Tuhan dalam keluarga
a. Tuhan sebagai prioritas utama (Amsal 3:6, Mat 6:33)
b. Pengajaran kebenaran Firman Tuhan dalam keluarga (Amsal 1:7; Ulangan    6:6-7)
c. Keluarga yang bertumbuh makin menyerupai Kristus
III. Peran Remaja dalam Pertumbuhan Iman Keluarga
a. Melakukan nasihat orangtua (Amsal 6:20-21)
b. Membangun komunikasi dan persekutuan (1 Korintus 12:25)
c. Menggunakan talenta untuk ikut berbagian dalam pertumbuhan iman keluarga
d. Penginjilan keluarga


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.